Sementara itu, bagi yang kurang mampu, aqiqah dapat untuk tidak dilaksanakan. ©Pixabay. Aqiqah bersifat wajib lantaran sebuah hadist riwayat Ahmad yang berbunyi, "Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ke tujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama." (HR Ahmad). Maka, aqiqah menjadi wajib lantaran
Aqiqah menjadi ibadah yang penting dan diutamakan. Bila mampu untuk melakukannya, maka orang tua sangat dianjurkan untuk melakukan aqiqah anaknya saat masih bayi. Namun, bagi yang tidak mampu untuk melaksanakannya, hukum aqiqah boleh ditinggalkan tanpa berdosa.
Tapi tidak menutup kemungkinan pada waktu yang lain, baik sebelum atau sesudahnya sebagaimana didukung Malikiyyah dan Syafi’iyyah. Dengan demikian tidak ada keterikatan dengan waktu tertentu terkait keabsahannya, apalagi pada hari ke-40. Wallahu a’alam. Yuk bantu dakwah media BCA 1280720000 a.n. Yayasan Baitul Maal Hidayatullah (BMH).
Katanya, para ulama Syafieyyah pula berpendapat, pelaksanaan aqiqah dituntut ke atas al-asl seperti ayah dan datuk kerana dia wajib menafkahi bayi tersebut. Imam Ibn Hajar al-Haitami menyebut dalam kitabnya al-Minhaj al-Qawim: "Tidak boleh bagi seorang wali itu melakukan aqiqah menggunakan harta anaknya.
“Aqiqah seperti qurban dalam mayoritas hukumnya, meliputi dalam jenis, umur, tidak memiliki aib, niat, memakanya, mensedekahkanya, wajib sebab nadzar atau sebab menjadikanya sebagai kesanggupan”. Berdasarkan ketetapan di atas, seorang ayah yang mengaqiqahi anak hukumnya sama dengan menyembelih qurban untuk dirinya sendiri.
Teks Jawaban. Alhamdulillah. Aqiqah hukumnya sunah muakkad. Tidak berdosa bagi orang yang meninggalkannya. Hal itu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya saya kira dari kakeknya berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda: مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ
QU9p.
aqiqah wajib atau tidak